English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Popular Posts

Peri Sandria: Mafia PSSI Miliki Sistem Regenerasi Handal

Saturday, July 02, 2011

Kisruh dan ketidakberesan manajemen di tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), ternyata sudah berlangsung lama. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab membuat lingkungan PSSI menjadi sarang para penyamun kelas kakap, yang bermain demi kepentingan tertentu.

Hal tersebut membuat prestasi Indonesia terus menurun, karena orang-orang yang tak bertanggung jawab tersebut duduk di posisi krusial di institusi tertinggi sepakbola Indonesia tersebut. Beberapa hal seperti pengaturan skor, tawar-menawar ketika sebuah klub sepakbola hendak naik kasta, sampai titip-menitip pemain timnas, sudah menjadi kebiasaan.

Walhasil, selama oknum-oknum tersebut bebas berkeliaran, termasuk membangun 'lini regenerasi', PSSI tak akan mampu mengangkat prestasi sepakbola tanah air, terutama di level senior.

Paparan tersebut dikemukakan mantan legenda sepakbola Indonesia, Peri Sandria, di Jakarta, saat launching program reality show di MNC TV, Soccer Star Indonesia, di Hotel Sultan.

"Sepakbola Indonesia sudah tak jujur. Orang yang jujur dan idealis pasti tersingkir, atau setidaknya dikucilkan. Saya pertama kali merasakan gelagat itu saat mengikuti pelatnas di Jerman, di awal tahun '90-an. Hebatnya, orang-orang tersebut memiliki sistem regenerasi yang bagus, jadi sampai sekarang masih terus berjalan. Saya yakin, jika tak ada perbaikan secepatnya, jangan harap timnas kita bisa berbicara lagi di level internasional," sebut Peri.

Eks striker Manstrans Bandung Raya ini berharap, konggres PSSI di Solo pekan depan bisa menjadi awal kebangkitan prestasi sepakbola Merah Putih.

Hal senada juga terucap dari mulut Rochi Putiray. Eks timnas dan Arseto Solo ini mengatakan oknum-oknum PSSI yang berprilaku negatif pada masanya, masih punya 'anak didik' yang membuat timnas Indonesia sulit meraih prestasi bagus.

"Saya menyorot terutama saat melihat prestasi timnas U-16 sangat baik, beberapa kali juara Asia, lalu begitu masuk senior terlihat lembek. Kegagalan timnas kita masuk ke putaran final Piala Asia 2011 bisa menjadi cermin awal. Bisa jadi itu ekses dari sistem sepakbola kita," beber Putiray.

Pemain yang pernah masuk camp uji coba klub Ligue 1, Auxerre, ini yakin, jika para pihak yang tidak berkompeten legowo untuk mundur, timnas Indonesia bisa berprestasi lagi, minimal menjadi raja di Asia Tenggara. (sindo)
Read Post | comments

Boaz Dianggap Memuaskan, Tibo Tak Dimaafkan


Penampilan gemilang Boaz Solossa musim ini bersama Persipura Jayapura membawa berkah tambahan baginya. Selain mempersembahkan gelar juara untuk klubnya, penampilan Boaz juga membuatnya kembali dipanggil oleh tim nasional Indonesia.

Boaz termasuk dalam 25 nama pemain yang dipersiapkan Badan Tim Nasional (BTN) untuk persiapan Pra Piala Dunia 2014 melawan Turkmenistan tanggal 23 dan 28 Juli mendatang. Sebenarnya, banyak pihak yang ragu Pelatih Kepala Timnas, Alfred Riedl, akan memanggil Boaz. Sebab, Riedl pernah mencoret Boaz akibat tindakan indisipliner. Terakhir kali Riedl memanggil Boaz ketika Indonesia menghadapi laga persahabatan melawan Uruguay, tahun lalu.

Riedl sendiri akhirnya menjelaskan kenapa dirinya kembali memberikan kesempatan kepada pencetak gol terbanyak Indonesia Super League (ISL) musim lalu dengan 22 gol tersebut. "Boaz bermain bagus di Persipura. Untuk itu saya beri dia kesempatan untuk yang kedua kalinya. Lagipula, dia pernah berbicara dengan saya soal masalah yang lalu," ungkap Riedl kepada wartawan seusai mengumumkan nama pemain timnas senior dan U-23 di Jakarta, Sabtu (2/7/2011).

Jika Boaz masih diberi kesempatan, tidak demikian dengan rekan sedaerahnya, Titus Bonai. Riedl mengatakan, dirinya sudah tak punya kesempatan bagi pemain yang sebelumnya sempat jadi andalan Timnas U-23 tersebut.

"Saya sudah beri dia dua kesempatan. Pertama ketika dia mabuk di Hongkong, lalu saat dia lari dari Pelatnas di Jakarta. Jadi kesempatan untuk dia sudah habis," jelas pelatih Austria tersebut. Untuk mengisi posisi Bonai, Riedl memanggil striker Persidafon Dafonsoro, Patrich Wanggai. (kompas)
Read Post | comments

Jika Kongres Sukses, Timnas Diguyur 9 Milliar

Akibat gagalnya Kongres PSSI yang berlangsung pada 20 Mei 2011 lalu, sejumlah agenda seperti jadwal seleksi dan uji coba Timnas Senior yang akan bertanding di ajang Pra Piala Dunia harus rela tertunda dan tidak jelas nasibnya. Tidak hanya itu, ketidakjelasan status pengurus PSSI juga mempersulit kegiatan Timnas yang tentunya tidak memiliki dana untuk menjalankan sejumlah kegiatan dan agenda tersebut.

Melihat situasi ini, Komite Normalisasi di bawah pimpinan Agum Gumelar pun berinisiatif untuk menggandeng beberapa perusahaan untuk membantu pendanaan bagi Timnas Indonesia. Hingga saat ini sudah ada lima BUMN yang menyatakan siap mendanai keuangan Timnas yang disebut mencapai 9 Milliar Rupiah. Lima BUMN tersebut diantaranya PT Pertamina, PT Semen Padang, PT Bukit Asam Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Bank Mandiri Tbk.

Namun dana tersebut baru akan dialirkan untuk Timnas setelah pengurus terbentuk atau jika Kongres Luar Biasa PSSI pada tanggal 9 Juli 2011 mendatang berhasil menemukan kepengurusan baru. karena Komite Normalisasi sendiri saat ini hanya sebagai Petugas sementara PSSI dan proses pendandatanganan MOU tersebut akan bermasalah nantinya jika tidak menggunakan pengurus sah.

"Kami tunda penandatanganan MoU dengan 5 BUMN. Karena bagaimanapun, Komite Normalisasi sifatnya ad hoc. Kami mempehatikan ulang dan tidak mau kedepannya ada permasalahan hukum. Tandatangan setelah Ketum (Ketua Umum) dipilih," ujar Bendahara PSSI, Achasanul Qosasih seperti dikutip dari Tribun News.

Tentunya kini seluruh pecinta sepakbola nasional berharap Kongres Luar Biasa mendatang tidak lagi berakhir deadlock dan tanpa hasil seperti pada tanggal 20 Mei 2011 lalu. karena jika kembali gagal, bisa dipastikan seluruh agenda Timnas yang telah dirancang sedemikian rupa ini akan berantakan. Mimpi Indonesia berlaga di Kualifikasi Piala Dunia 2014 pun sudah harus pupus sebelum bertanding. (RH)
Read Post | comments

Alasan Riedl Tak Panggil Irfan Bachdim


Pelatih Alfred Riedl telah mengumumkan daftar pemain untuk mengikuti seleksi tim nasional Indonesia senior dan U-23. Dalam daftar itu tak terdapat nama Irfan Bachdim, striker Indonesia di Piala AFF 2010.

Riedl resmi mengumumkan 25 nama pemain timnas Indonesia senior dan 25 pemain timnas U-23 hari ini, Sabtu 2 Juli 2011. Pelatih asal Austria itu tidak memasukkan nama pemain yang berasal dari LPI.

Riedl mengaku tidak ingin mengambil risiko dengan memasukkan nama pemain dari LPI, pasalnya hingga ini statusnya masih belum jelas. Pihak Komite Normalisasi PSSI menegaskan LPI memang berada di bawah kendali PSSI, namun belum menjadi anggota PSSI maupun FIFA.

"Tidak ada pemain dari LPI karena belum jelas statusnya. Mungkin setelah Kongres PSSI (9 Juli), kalau sudah jelas, bisa kami masukkan di leg 2 Pra-Piala Dunia 2014 melawan Turkmenistan dan SEA Games 2011," tegas Riedl dalam jumpa pers, Sabtu 2 Juli 2011.

Meski begitu, Riedl tidak menutup pintu bagi pemain-pemain LPI. Mantan pelatih timnas Vietnam ini berjanji jika status LPI sudah jelas maka pemain seperti Andik Vermansyah, Kim Jeffrey Kurniawan dan Irfan Bachdim akan kembali mendapat kesempatan.

Pernyataan serupa juga diungkapkan asisten pelatih Wolfgang Pikal. "Pemain-pemain seperti Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey akan mendapat kesempatan yang sama jika status LPI sudah jelas," tegas Pikal. (ren)
Read Post | comments
 
© Copyright Garuda di Dadaku! 2013 - All Rights Reserved | Powered by Blogger.com.