
Bermimpilah akan sesuatu yang ingin Anda impikan. Pergilah ke tempat yang ingin Anda tuju. Jadilah apa yang Anda harapkan. Karena kita hanya hidup sekali, dan punya sekali kesempatan untuk melakukan semua yang diharapkan.
Sebuah nasihat populer ini hadir kembali dalam ingatan. Sambil menyantap hidangan lezat khas makanan Medan di Warung Kak Ani, Kemang, perbincangan dengan keluarga Sjahbandi sungguh menyenangkan.
Menyebut nama Rony Sjahbandi mungkin terasa asing bagi Anda. Bagaimana kalau Hanif Abdurrauf Sjahbandi? Beberapa waktu lalu, remaja kelahiran 7 April 1997 ini mencuat dalam pemberitaan, terutama di dunia maya.
Sosok Hanif muncul memakai jersey merah yang begitu akrab dengan publik sepak bola Indonesia. Ia menjadi salah satu buah bibir karena tergolong sukses saat berlatih bersama anak-anak dari berbagai negara di sekolah sepak bola Manchester United awal 2010.
Bakat Hanif membuatnya mendapat tiket tampil dalam World Skills Finals 2009 di Old Trafford. Panggung ini hanya ditujukan kepada mereka yang terlihat menonjol saat mengikuti kursus sepak bola Man. United.
“Hanif mengikuti semua tahap di Man. United yang dulu dijalani David Beckham ketika remaja,” ucap Rony, sang ayah yang tak bisa menutupi kebanggaannya terhadap perkembangan sang anak.
Bincang-bincang hangat dengan seluruh keluarga Sjahbandi tiba juga pada sebuah nama, Rudi Setiawan. Tentu pembaca masih ingat sebuah tulisan di Weekend Story pada 24 April berjudul “Jangan Rusak Mimpiku.”
Impian Rudi, dan berjuta anak-anak Indonesia, mengecap ilmu sepak bola di Eropa sudah dirasakan Hanif. Bahkan, Rony Sjahbandi berencana memboyong semua keluarganya pindah dan menetap di kota Manchester usai Piala Dunia 2010.
“Ini bukan ambisi saya, melainkan keinginan Hanif sendiri. Saya pikir, kesempatan belum tentu datang dua kali, dan ketika peluang bagi Hanif ada, saya akan dukung ia sepenuhnya.” Begitu Rony meyakinkan saya.
Dengan bangga, sang ayah pun menyebutkan nilai-nilai pelajaran di sekolah Hanif. Remaja yang masa kecilnya tergolong hiperaktif itu menemukan dunianya bersama si kulit bundar tanpa menjadi sosok terbelakang dalam pelajaran.
Sungguh beruntung Hanif memiliki orang tua seorang pengusaha ikan yang ingin disebut sebagai “tukang jual ikan” untuk menemani ayah Rudi yang penjual sayur.
Agustus nanti, rencananya Hanif akan bergabung bersama Hough End Griffins Junior FC, sebuah klub sepak bola di Manchester tempat para pencari bakat klub-klub seperti Man. United, Man. City, hingga Blackburn Rovers berburu pemain. Walau remaja bertubuh 168 cm dan 50 kg itu masih menanti panggilan tim pemandu bakat Man. United.
Kepada saya, Hanif mengaku siap meninggalkan Tanah Air dan merintis jalan menjadi pesepak bola profesional. Ia ingin mewujudkan impiannya yang bagi anak-anak Indonesia hanya berani dibawa tidur sambil berangan-angan.
Pengalaman menimba ilmu di Man. United telah menggoda Hanif untuk kembali ke negeri David Beckham. Katanya, “Anak-anak di sana sudah mengerti bermain sepak bola sebagai sebuah tim.”
Hasrat dan Keberanian
Pembaca, bila kita membagi tiga karakter manusia, masuk ke kelompok manakah Hanif?
Pertama, manusia yang berani bermimpi akan sesuatu yang ia angan-angankan karena sadar bahwa bermimpi itu adalah keindahan pikiran makhluk ciptaan Tuhan.
Kedua, tipe anak yang ngotot melakukan apa yang ia inginkan. Bukankah itu merupakan kekuatan hasrat manusia?
Lalu yang ketiga, seorang anak yang percaya pada diri sendiri dan berniat menguji batas kemampuannya. Ini adalah karakter manusia yang berani meraih kesuksesan.
Alangkah indahnya bila Hanif dan anak-anak Indonesia bisa memadukan ketiganya dalam hidup mereka. Mimpi itu harus diikuti dengan kemauan bangkit dari tempat tidur dan bekerja keras mewujudkannaya.
Saya ingin mengutip kata-kata bijak dari Harriet Tubman, seorang wanita pejuang hak-hak asasi manusia di zaman perbudakan selama perang saudara di Amerika. Katanya, setiap impian besar dimulai oleh seorang pemimpi.
Kalau Hanif dan anak-anak Indonesia tidak berani bermimpi, sampai kapan kita hanya menjadi penikmat tontonan sepak bola bermutu di layar kaca?
Tentu impian ini tentu tak boleh berhenti sebatas angan-angan. Seluruh stakeholder, yakni orang, badan organisasi, dan sistem yang berkaitan dengan dunia sepak bola Indonesia kudu mencari jalan agar mimpi-mimpi anak Indonesia bisa menjadi kenyataan.
Mari hidupkan kembali sentra-sentra pembinaan pemain usia dini. Perkenalkan mereka dengan semangat dan arti kompetisi, serta kemauan meniti batas kemampuan.
Lalu, nagaimana bila Hanif, pengagum Lionel Messi itu gagal bersinar dan mengharumkan nama bangsa di negara orang? Bagaimana dengan pengorbanan keluarga Sjahbandi?
Tugas kita, semua insan olah raga, wajib menjaga api semangat itu agar tidak padam. Bukan hanya api Hanif, tetapi juga kobaran semangat anak-anak Indonesia.
Ya, bila impian Anda jatuh dan pecah beribu-ribu keping, jangan pernah takut memungut salah satu kepingan itu dan memulainya lagi dari awal. #
oleh: Wesley Hutagalung
source://
bolanews